Header Ads

ad

Eksotika Kepulauan Kei Menjadi Surga Tersembunyi di Indonesia

Eksotika Kepulauan Kei Menjadi Surga Tersembunyi di Indonesia

Kenikmati keindahan kepulauan Kei tidak ada habis habisnya. Bagaimana mau habis, di kepulauan ini kita disuguhi dengan pemandangan alam yang indah apalagi pesisir pantainya, adat istiadat dan budayanya, serta makanan khas yang terbilang unik. kepulauan kei yang terdiri dari beberapa pulau yaitu : Pulau Kei Besar, Pulau Kei Kecil, Pulau Warbal, Ur Pulau, Pulau Tanimbar Kei, Pulau Dullah, Pulau Ut, Pulau Tayando, Pulau Tam, Pulau Kur, Pulau Mangur, dan Pulau Fadol. Semua pulau-pulau yang saya sebutkan di atas adalah pulau yang berpenghuni sedangkan pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni masih banyak lagi.

Mari sama-sama kita simak cerita tentang eksotika kepulauan kei dengan keindahan-keindahan yang dia miliki. Setelah sahabat-sahabat pembaca menikmati cerita ini silahkan sahabat-sahabat pembaca buktikan langsung dengan datang dan berwisata di tanah adat Nuhu Evav (nama lain dari kepulauan kei).

A. Budaya dan Adat Istiadat


Eksotika Kepulauan Kei Menjadi Surga Tersembunyi di Indonesia

Masyarakat di kepulauan kei merupakan masyarakat yang berbudaya dan beradat. Budaya dan adat yang diwariskan oleh leluhur sejak ratus tahun lalu masih disimpan dan dilestarikan dengan kokoh oleh masyarakat  kepulauan ini. Secara adat masyarakat kei mempunyai hukum, sebagaimana diceritakan dalam bentuk tom tad, hukum adat di sini disebut dengan hukum adat Larvul Ngabal. Selain hukum adat, ada satu budaya yang sangat populer di kalangan masyarakat kei yaitu budaya Maren yang artinya gotong royong. Bahkan budaya maren ini dijadikan sebagai filosofi utama kota Tual. Kesenian taradisonal juga dimiliki oleh masyarakat kei. Kesenian-kesenian tersebut dikemas dalam bentuk tarian dan musik. Selain itu masyarakat kei juga memiliki kerajinan tangan seperti tembikar, anyaman tikar, topi, dan lain sebagainya.

B. Makanan Khas


Eksotika Kepulauan Kei Menjadi Surga Tersembunyi di Indonesia

Setiap daerah yang ada di Indonesia sudah barang tentu mempunyai makanan khas masing-masing. Sama halnya dengan di kepulauan kei yang mempunyai makanan khas dan bisa terbilang unik karena berasal dari ubi kayu yang beracun kemudian diolah menjadi makanan khas masyarakat kei. Makanan khas di sini disebut dengan nama embal. Ubi kayu beracun ini sekarang sudah diolah menjadi kuliner khas kepulauan kei (sudah menjadi komoditi lokal), kuliner tersebut bisa di dapat di pasar Langgur dan pasar Tual dekat pelabuhan kapal. Biasanya pasar kuliner yang berada di dekat pelabuhan kapal rame pembeli ketika ada kapal penumpang yang berlabuh di pelabuhan Tual.

Jajanan kuliner embal disuguhkan dalam beberapa macam yaitu; embal kacang, embal bunga, embal keju, embal coklat, semuanya bisa didapat dengan harga yang murah, berkisar Rp. 7.000 hingga Rp. 25.000 maka anda sudah bisa menikmati kuliner-kuliner tersebut. Selain itu, ada juga jajanan kuliner lain khas kepulauan kei yaitu lutak-lutak dan kacang botol yang dijual di pasar tersebut. Kacang botol ini dikemas di dalam botol dan juga dalam kemasan dengan berbagai rasa, ada rasa asin, rasa gula dengan tambahan pewarna makanan yang aman untuk dikonsumsi, dan ada pula rasa bawang putih.

Sebagai kabupaten dan kota kepulauan maka sudah barang tentu Kab. Maluku Tenggara dan Kota Tual memiliki sumber daya hayati laut yang kaya, terlebih ikan. Dengan demikian maka ikan bakar ala kei juga disuguhkan menjadi menjadi makanan khas dan jajanan kuliner yang bisa di dapat di warung-warung makan dan tempat-tempat wisata.

C. Pariwisata


Eksotika Kepulauan Kei Menjadi Surga Tersembunyi di Indonesia

Sekitar jam 16.15 WIT saya sedang berjalan di atas pasir putih yang halus dan indah di salah satu tempat pariwisata faforit yang ada di kepulauan kei. Tempat pariwisata ini bernama Ngur Bloat (pasir panjang). Masyarakat setempat menamai tempat pariwisata itu dengan nama ngur bloat karena pasirnya mengikuti panjang pesisir pantai. Di sana ada pondokan-pondokan kecil dan gang-gang tempat santai, ada pula villa-villa yang dibuat untuk tempat penginapan pariwisata yang berkunjung dan ingin menginap.

Pukul 17.45 WIT, suasana ngur bloat menjadi lebih indah, saat itu tampak langit berubah menjadi kuning kemerahan dan mewarnai keseluruhan tempat itu. Sore menjelang malam yang indah, saya ditema oleh ikan bakar dan embal babuhuk karena saat itu perutku mulai keroncongan. Menikmati suasana pantai yang memukau setiap mata yang melihatnya. Saya merasa bagaikan berada dalam surga kecilnya Tuhan.

Sebelum saya menginjakkan kaki di pasir putih dengan suasana elok yang sudah saya ceritakan di atas, perjalanan hari itu saya mulai dari salah satu objek wisata yang berada di Kota Tual, Divur namanya. Saat itu jam tanganku menunjukkan tepat pukul 10.00 WIT, saya menuju ke pantai divur dengan kendaraan mobil yang sudah saya sewa. Jalan yang mengikuti pesisir pantai beberapa desa yang berada di Kec. Pulau Dullah Utara hingga sampai di pantai divur saat itu sangat ramai dengan kendaraan roda dua dan roda empat, kebetulan hari itu hari minggu, jadi masyarakat setempat juga ikut pergi melepas lelah di tempat-tempat pariwisata.

Di divur, banyak pepohanan yang rindang, dibawahnya sudah disediakan bangku duduk dan pondokan, ada juga pondokan yang dibuat menjulang ke laut dan dihiasi pesisir pantai dengan pasir putih menawan. Teluk desa lebetawi ini menyimpan keindahan pariwisata yang memukau, karena selain divur di sana ada juga gowa dengan tujuh mata air yang berada tak jauh dari tempat wisata divur, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama gowa tujuh putri.

Setelah beberapa jam menikmati keindahan di pantai divur dengan kuliner gorengan yang berasal dari ubi-ubian, sifut, dan sayur khas kepulauan kei yaitu sir-sir namanya, saya melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Air Gowa Lian Hawang. Tempat wisata yang satu ini berada di sebelah barat pulau kei kecil, tepatnya di Ohoi (sebutan desa oleh masyarakat kei) Letvuan, Kec. Kei Kecil, Kab. Maluku Tenggara. Sesampainya di sana dengan melalui perjalanan panjang, saya menyempatkan diri untuk singgah di perkampungan warga, pulang kampung ceritanya ni, hehehehehe.

Setelah bercerita lama dengan saudara-saudara saya (masyarakat di Ohoi Letvuan semuanya masih mempunyai hubungan kekeluargaan termasuk saya), saya kemudian mengajak beberapa saudara-saudara saya untuk mengunjungi tempat wisata Lian Hawang tersebut yang terkenal dengan airnya yang sejuk dan berada di dalam gowa. Dengan santai kami berjalan sambil bercerita dan bercanda. Sesampainya di air gowa saya langsung mandi untuk menikmati kesejukan air yang sudah lama tidak saya rasakan.

Nama Lian Hawang berasal dari bahasa kei yang secara harfiah lian berarti gowa sedangkan hawang artinya hantu atau setan. Memang kalau mau dilihat gowa ini selain memiliki ciri khasnya yang indah, gowa ini juga agak seram, seperti ada hantunya. Tapi sebenarnya itu yang menjadi tantangan tersendiri untuk dinikmati. Dari atas gowa terdapat tanjakan menurun yang sudah lama dibuat, kalau hujan agak licin sehingga perlu kehati-hatian untuk berjalan di atas tanjakan tersebut. Dapat dilihat mulut gowa yang lebar, di dalamnya ada stlaktit dan stalakmit yang menghiasi gowa, rerumputan dan pepohonan yang berada di sekitar gowa, menandakan gowa ini masih hidup (gowa aktif). Selain gowa yang saya gambarkan ini (gowa ini banyak dikunjungi wisatawan, baik itu lokal maupun manca negara), ada juga gowa yang jarang dikunjungi dan berada sebelum gowa yang saya gambarkan di atas. Gowa tersebut kecil ukurannya dan ditumbuhi oleh pepohonan dan rerumputan yang padat sehingga gelap. Air kedua gowa ini menurut perkiraan saya masih berasal dari sumber yang sama dan saling berhubungan.

Setelah beberapa lama kami menikmati sejuknya gowa lian hawang, kami lalu beranjak kembali ke kampung dan selanjutnya saya menuju ke salah satu tempat wisata pemandian di ohoi Evu yang tak jauh dari kampung saya, hanya dengan menempuh waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan saya sudah sampai. Pemandian air Evu ini merupakan sumber air yang subur di tanah kei, perusahaan air minum Kab. Maluku Tenggara (MALRA) memanfaatkan air evu sebagai sumber mata air dan menyalurkannya ke hampir sebagian besar masyarakat yang mendiami pulau Kei Kecil.

Tempat wisata pemandian di desa evu ini terasa sejuk, airnya tak beda jauh dengan air yang ada di gowa lian hawang. Ramainya tempat ini menambah kesejukan di hati. Kolom panjang dengan kedalaman ± 3 meter ini, airnya terus mengalir sehingga membuat setiap pengunjung yang datang tergoda untuk mandi dan merasakan kesejukan yang dia miliki. Mataku menetap sejenak ke tempat penjualan makanan, di sana ada pisang goreng yang renyah, sayur sir-sir (sayur yang diolah dari bunga pepaya, dan daun singkong), ikan bakar, siput goreng, embal goreng (ubi kayu beracun yang diolah) dan makanan kuliner khas kei lainnya yang menggoda selera.

Waktu sudah menunjukakkan pukul 14.45, saatnya untuk mengunjungi tempat wisata yang terakhir dalam skejul saya hari itu. Bersama pak sopir, kami melaju dengan mobil menuju ke tempat wisat ngur bloat atau lebih dikenal dengan pasir panjang. Eh... dari tadi saya lupa cerita kalau saya bersama pak supir mobil ni. Perkenalkan pak supir dalam perjalanan yang jauh dan melelahkan tapi terasa nikmat, dia bernama chano atau lengkapnya Hasan Derwotubun, dia masih pangkat paman saya walaupun umurnya masih di bawah saya. Hampir seharian kami berwisata di tanah kei, saatnya untuk kembali ke kediaman saya di desa fiditan. Dalam perjalanan pulang saya lihat paman saya yang satu ini mulai kelelahan dalam mengendarai mobil, saya ingin menggantikannya tapi taku mobil tabrak takarung barang.

Masih banyak tempat-tempat wisata yang indah namun belum saya ceritakan di sini (sudah larut malam saya mau tidur dulu besok mau ngajar), tunggu saja, nanti bakalan saya share dengan sahabat-sahabat sekalian. Sekian dulu cerita tentang Eksotika Kepulauan Kei, terima kasih saya ucapkan kepada para sahabat baca yang budiman dan jangan lupa tinggalkan komentar anda di kolom komentar, tunggu cerita-cerita lainnya pada episode-episode selanjutnya

Tidak ada komentar